Friday 4th of September 2026

Penyebab Pabrik PT PWI 6 di Lebak Tutup Permanen, Nasib Karyawan Kini Dipertaruhkan!

Penyebab Pabrik PT PWI 6 di Lebak Tutup Permanen, Nasib Karyawan Kini Dipertaruhkan!

--

MASKAHUB - Operasional PT Parkland World Indonesia (PWI) 6 di Kabupaten Lebak, Banten, akan berhenti secara permanen mulai Oktober 2026. Penutupan perusahaan manufaktur alas kaki asal Korea Selatan ini berdampak pada lebih dari 600 pekerja yang dikabarkan akan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pemerintah Kabupaten Lebak menyatakan bahwa rencana penutupan tersebut terkait dengan berakhirnya masa sewa bangunan yang saat ini digunakan sebagai fasilitas produksi perusahaan.

Rully Chaeruliyanto, Sekretaris Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Lebak, mengatakan bahwa manajemen PT PWI telah menyampaikan pemberitahuan resmi mengenai penghentian operasional kepada pemerintah daerah.

"PWI sudah melapor ke kita di bulan Oktober itu tutup permanen. Itu ya tadi dikarenakan tadinya sewanya itu sudah habis di bulan Oktober," ujar Rully saat ditemui di kantornya pada Kamis, 3 September 2026.

Menurut Rully, proses PHK terhadap para pekerja telah dilakukan secara bertahap. Berdasarkan laporan awal yang diterima Disnaker Lebak, jumlah pekerja yang terdampak PHK telah mencapai lebih dari 600 orang.

Lainnya: Update Kebakaran PT Evyap di KEK Sei Mangkei, Kondisi Terbaru Usai Tigas Pos Damkar Dikerahkan

"Tinggal nanti selanjutnya belum ada laporan lagi terkait dengan PHK lanjutan," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Lebak berkomitmen untuk mengawal proses PHK guna memastikan seluruh hak pekerja dipenuhi oleh perusahaan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Rully menegaskan bahwa perusahaan tetap berkewajiban memenuhi hak-hak pekerja, termasuk pembayaran uang pesangon, asalkan PHK tersebut dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

"Sesuai aturan—khususnya regulasi ketenagakerjaan—uang pesangon wajib diberikan saat terjadi PHK," katanya.

Hingga saat ini, Disnaker Lebak belum menerima informasi mengenai kemungkinan pemindahan sebagian pekerja ke fasilitas produksi PT PWI lainnya.

"Kalau untuk pemindahan atau lainnya itu belum ada informasi lebih lanjut. Untuk sementara informasinya hanya PWI saja," ujar Rully.

PT PWI 6 diketahui mulai beroperasi secara bertahap di Kabupaten Lebak pada tahun 2019. Sementara itu, terkait nasib bangunan dan lahan bekas pabrik tersebut, Disnaker telah menerima informasi awal yang mengindikasikan bahwa lokasi itu berpotensi digunakan kembali oleh perusahaan lain.

Namun, informasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya. Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, menilai rencana penutupan PT PWI 6 perlu dievaluasi oleh pemerintah daerah, khususnya terkait upaya menjaga iklim investasi dan mempertahankan lapangan kerja.

Amir menyatakan bahwa permasalahan yang dikemukakan pihak manajemen melampaui sekadar isu ketenagakerjaan atau tingginya biaya operasional. Menurutnya, terdapat persoalan lain yang membuat perusahaan merasa tidak nyaman dalam menjalankan usahanya di Lebak.

"Saya pernah ngobrol dengan mereka, bukan hanya masalah ketenagakerjaan atau masalah ongkos mahal. Tapi ada hal-hal lain yang mereka ceritakan ke saya yang menurut mereka cukup mengganggu," ujar Amir.

Amir tidak merinci pihak-pihak yang terlibat maupun bentuk gangguan yang dimaksud. Namun, ia memperingatkan bahwa permasalahan lokal dapat berdampak pada keberlangsungan investasi, terutama mengingat perusahaan manufaktur yang berorientasi ekspor sangat bergantung pada kepercayaan pembeli luar negeri.

Lainnya: Pabrik PT Evyap di KEK Sei Mangkei Terbakar Hebat, 3 Orang Tewas dalam Insiden Ini!

Ia mencatat bahwa situasi perusahaan di suatu daerah kini dapat dengan mudah dipantau oleh calon klien dan pembeli melalui media sosial. Berbagai bentuk gejolak yang menyangkut perusahaan berpotensi memengaruhi persepsi pembeli terhadap bisnis tersebut.

"Kalau buyer begitu, misalkan ada datang ke sana ribut di medsos, ketahuan di pusatnya di luar negeri. Nah, kalau kondisi orang Lebak begini saja, ya mau organisasi tertentu, mau pejabat mau nakut-nakuti, kemudian muncul di medsos, itu sampai ke pembeli di Eropa membuat penilaian kurang," ujarnya.

Amir menegaskan bahwa keberlanjutan pesanan dari pembeli merupakan faktor krusial bagi perusahaan dalam mempertahankan kegiatan produksi. Jika pesanan terhenti, perusahaan pada akhirnya mungkin akan mempertimbangkan kembali masa depan fasilitas produksinya.

Source:

Update Terbaru

RELATED POST